Khutabtul Wada PKU XIII Unida Gontor
الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على النبي المصطفى وعلى آله وأصحابه أهل التقى والوفى. أما بعد
Yang terhormat, Rektor UNIDA Gontor Prof. Dr. Amal Fathullah
Zarkasyi, MA. Yang kami ta’dzimi
Yang terhormat, Direktur Utama Program Kaderisasi Ulama, Dr Hamid
Fahmy Zarkasyi Yang kami taati
Direktur Eksekutif Program Kaderisasi Ulama Ust Khairul Umam MA yang
kami hormati
Segenap para dosen dan musyrif, serta mentor yang tidak bisa kami
rinci, tanpa sedikitpun rasa hormat yang terkurangi,
Begitu pula para staf dan teman-teman PKU angkatan XIII yang kami
cintai
Berdirinya saya disini, sebagai perwakilan dari teman-teman peserta
Program Kaderisasi Ulama Angkatan Tiga Belas yang saya cintai. Untuk
menyampaikan sepatah dua patah kata mengenai kesan dan pesan selama kami
menimba ilmu di kampus ini.
Setiap dari kami memiliki alasan mengapa masuk mendaftar di PKU.
Ada yang termotivasi setelah membaca buku-buku PKU dan INSISTS yang dikarang
oleh sang guru. Ada yang memang murni disuruh oleh orang tuanya untuk
melanjutkan di PKU untuk menuntut ilmu. Ada yang memang karena sejak kecil hobinya
belajar, menulis, berdiskusi hingga lupa waktu. Ada yang masuk PKU sebagai qodo’an
karena selama kuliah lebih banyak bermain daripada belajarnya, sehingga
menganggap dirinya lulusan yang belum bermutu. Ada juga karena sedang dalam
fase hijrah, sehingga dikenal di PKU sebagai Ust Hijrah yang berkacamata dan
berotot itu.
Tapi meskipun motivasi dan starting point kami berbeda, kami memiliki satu motivasi yang sama. Bahwa
setiap dari kami ingin merubah framework dan paradigma. Serta meningkatkan
pemahaman akan Islam sebagai agama dari sang Pencipta. Islam sebagai sebuah
cara padangan alam dalam melihat kebenaran dan realita. Dengan masuk PKU, kami bisa mengislamisasikan
diri ini yang masih keliru dalam menganalisa sebuah fenomena.
Kami dipertemukan dengan teman-teman yang luar biasa, dengan latar
belakang yang berbeda. Ada utusan Muhammadiyah, NU, Persis, MUI, Kemag, PSPI,
Pemerintah Kabupaten dan kampus UNIDA. Ada yang dulunya sebagai aktifis hingga
menjabat sebagai Dewa. Aktifis Masjid Salman ITB, aktifis perpustakaan Masjid
Solahuddin UGM, ketua BEM STAIPI dan ketua DEMA UNIDA, serta lulusan UIN Sunan
Kalijaga. Ada juga aktifis perempuan yang bergabung di AILA. Ada juga seorang
penulis produktif yang salah satu bukunya berjudul Wanita Yang Merindukan Surga.
Yang dari Mahasiswa Guru juga tidak kalah hebatnya. Ada mantan sekpim, staf
hotel, pramuka, lac, mabikori dan menwa.
Semuanya diawali dari gedung Ali Bin Abi Thalib yang juga dihuni
oleh mahasiswa S1 dan S2 yang berbeda karakter dan mazhab. Karena memang waktu
itu gedung PKU sedang ditempati oleh para mahasiswi Turki yang sedang belajar
bahasa arab. Jarak perkuliahan yang jauh dari maskan Ali ke Hall UNIDA tidak
menyulitkan kami untuk semangat datang ke kelas untuk mendapatkan transfer ilmu dan adab. Berselang
dua bulan, tiba waktu kepergian Mahasiswi Turki yang berjilbab, meskipun sayang
kami belum berkenalan akrab. Kami bergegas melakukan pindah masal dari maskan
Ali ke Gedung PKU yang dipimpin sang ketua, Saudara Showan sebagai penanggung
jawab. Dengan segera kami membuat rancangan kegiatan dengan membentuk
halaqah-halaqah diskusi hingga ada yang mengkaji Talmud dan al-Kitab.
Kalau di Pascasarjana ada Teras Peradaban, di Gedung PKU ada Pojok
Peradaban. Anehnya ia sering disebut oncom corner, entah siapa yang mencetuskan.
Diskusi Bahasa Inggris dan Arab rutin kami lakukan. Halaqah tahsin, membagi
nasi bungkus ke fakir miskin di ponorogo hingga buka bersama secara berkala
diagendakan. Meskipun tidak semua yang ikut buka bersama juga ikut berpuasa
seharian.
Berbagai macam fasilitas juga telah disediakan. Perpustakaan CIOS
dengan wifi yang kencang menunjang kami untuk semakin rajin menjalankan
tugas-tugas yang diberikan. Disini ada PKU Mart dengan penjaga kafenya yang
selalu tersenyum setiap kami membeli makanan. Tentu kantin ini bukan untuk
dikomersialisasikan, tapi ia sebagai penunjang salaha satu maqashid syariah yaitu
hifdzul aql sebagai tujuan. Yaitu terciptanya akal yang sehat dan siap menerima
ilmu-ilmu dari tumpukan buku-buku yang kami baca, mulai dari yang tebal hingga
yang ringan.
Berbagai macam penugasan silih berganti. Kuliah dari pagi hingga
sore bahkan malam selalu menanti. Entah berapa buku sudah kami lahap di PKU
ini. Tugas penulisan baik itu resume, opini, artikel, karya ilmiah, bahkan
jurnal sekalipun kami hadapi. Tugas khutbah, jadwal imam, jadwal kajian shubuh,
kajian CIOS dan tugas-tugas lainya selalu menenami. Tugas-tugas itulah yang
membuat kaum rebahan seperti kami agak susah beradaptasi.
Berdiskusi adalah rutinitas kami hampir setiap malam dengan
ditemani para mentor dan mentorah, ada Ustadzah Farhah dan Ustadzah Firda yang
baik hati. PKU Putri dibimbing ust. Yongki. beliau membimbing Peserta PKU Putri
sejak awal hingga beralih ke kelompok epistemology, yang kemudian ditemani Ust.
Rizki. Kelompok Al-Qur’an, Hadist dan Syiah dibimbing Ust Eko yang sudah
beristri, Kelompok Pluralisme dan Dekontruksi Syariah dibimbing Ust Hasbi dan
Ust Rodhi. Kelompok Sosial Politik dibimbing Ust Indra Ari Fajari. Sebagian
besar dari mentor dan mentorah adalah sosok-sosok yang sering mendapat sebaran
undangan pernikahan dari temen-temanya dulu di pondok madani, semoga setelah
penutupan ini mereka bisa menyebar undangannya sendiri.
Kami mendapatkan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berbhineka. Dari
sejarah barat hingga filsafat heremeneutika. Disini kami dikenalkan dengan
tokoh-tokoh orientalis dan pemikir kelas dunia seperti, Frinthjof Schuon, Simone
de Beauvoir, Freidrich D.E. Schleiermacher, Wilhem Dilthey, Martin Heidegger, Hans-Georg
Gadamer, Nietzche, Wilfred Canwell Smith, John Hick, Harvey Cox, David Hume,
Thomas Khun, Adam Smith, John Wansbrough, Immanuel Kant hingga Jacques Derrida.
Sebagian Besar dari mereka adalah tokoh postmodernisme yang identik dengan
karakter relativismenya. Kami juga dikenalkan dengan sarjana muslim kontemporer
seperti Husein Muhammad yang dijuluki Kiai Feminis yang baru menerima Honoris
Causa, Khalafullah dengan kisah-kisahnya. Muhammad Arkoun yang dikaji oleh
Saudara Fariz Mirza. Muhammad Syahrur dengan Milk al-Yamin-nya yang membuat
geger segajat raya, hingga Jamal al-Banna yang dikaji oleh saudara kita Da’I,
sang penikmat senja.
Kami diajarkan pemikiran-pemikiran mereka bukan untuk ditelan
mentah-mentah atau dipuji bak dewa brahma. Tapi untuk dikritisi sebagaimana telah
dilakukan oleh para guru kita. Tradisi kritik adalah hal yang biasa sebagai wujud
adanya dialektika. Dengan Mengkritik kita bisa tahu mana yang shawab
mana yang khata’, mana yang haq mana yang bathil, mana
yang shahih mana yang saqim, mana
yang benar mana yang salah, mana yang jujur dan mana yang dusta.
Selain memahami peradaban Barat yang cenderung liberal atau bebas.
kami juga dituntut untuk paham apa yang ditulis oleh para ulama-ulama kita yang
berkelas. Mulai dari Muhammad bin Idris as-Syafi’ie, Abu Hamid al-Ghazali, Ibnu
Rusyd, Ibn Sina, as-Syatibi, Ibnu Khaldun, Fakhruddin ar-Razi hingga Ibn Firnas.
Begitu juga tokoh-tokoh pemikir muslim kontemporer seperti Osman Bakar, Malik
Badri, Said Nursi, Ismail al-Faruqi, Alparslan Acikgenc dan tentunya Syed
Muhammad Naquib al-Attas. Melalui merekalah, kita bisa memahami agama Islam yang
luas.
Setelah berselang empat bulan masa perkuliahan. Tibalah saatnya
masa penulisan. Perjalanan penulisan bukan tanpa rintangan. Pagi siang sore
malam, jiwa raga kami korbankan demi melahirkan karya ilmiah yang sesuai
harapan. Menulis, menghadap ke musyrif, dikoreksi, diperbaiki, menghadap lagi,
dikoreksi, diperbaiki, begitulah perkejaan kami seharian. Kata pepatah, Berakit-rakit
Kehulu, Berenang Ketepian, Bersakit-sakit dahulu, Workshop kemudian.
Masa workshop itupun datang. Perjalan dari Surabaya-Yogyakarta-Jakarta-Banten
adalah perjalanan yang menantang. Disana kami mempresentasikan makalah dengan
slide yang telah digladi secara matang. Disana kami berlatih menyampaikan
materi dengan sistematis tanpa rasa bimbang. Diselengi candaan para bucin untuk
memecah keheningan. Kami harus siap menerima pertanyaan apapun dari audience
yang datang, meskipun kadang dikritik terlalu utopia mengawang.
Kami juga bertemu dengan tokoh tokoh nasional seperti Prof Roem Romi
dan Dr. Hidayat Nur Wahid untuk mendengar petuah mereka dengan suasana penuh keheningan.
Selain itu kami berkunjung ke MUI Jawa Timur dan MUI Pusat serta YDSF mendegar
cerita mereka dalam berjuang. Alhamdulillah, berkat workshop ini, ilmu kami
semakin terasah, perjalanannya penuh faedah. Karena saking banyaknya ramah
tamah, berat badanpun bertambah, tapi tidak apa-apa, yang penting follower
semakin melimpah.
Kami ucapkan ribuan terima kasih kepada para dosen dan musyrif.
Terkhusus kepad Prof. Amal, Ust Hamid, dan Ust. Khairul Umam sebagai Direktur
Eksekutif. Terimak kasih yang tanpa lelah membimbing kami, mengajari kami,
memberi teladan kepada kami, memotivasi kami sehingga menjadikan kami
mahahasiwa yang produktif. Kepada para mentor yang setia menemani kami dari
awal hingga titik ini dengan penuh kooperatif. Segala upaya yang kami lakukan
untuk membalas jasa mereka tidak akan sebanding dengan setetes keringat yang
keluar dari tubuh mereka yang latif. Ada perkataan seorang sahabat untuk
mewakili perasaan kami yang naif. Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata ana
‘abdun man allamani harfan (aku adalah budak bagi orang yang mengajariku walau
hanya huruf alif). Semoga para guru-guru kami diberikan umur yang panjang,
sehat walafiat dalam mengemban amanah risalah kenabian yang hanif.
Kami juga berterima kasih kepada seluruh staf yang telah rela
berkhidmah menemani kami dari mulai pendaftaran hingga penutupan acara ini. jazakumullah
ahsanal jaza. semoga amal kebaikan antum menjadi wasilah atas kelancaran
studi antum kedepan nanti. Dan kami doakan semoga antum bisa masuk PKU tahun
depan mengikuti jejak kami.
Bagi kawan-kawan yang melanjutkan di Teras Peradaban. Semoga
dilancarkan perkuliahannya terkhusus dalam melaksankan tugas-tugas perkuliahan.
Bagi yang keluar untuk bekerja semoga dilancarkan untuk mendapatkan perkerjaan.
Bagi yang berusaha untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri semoga dipermudah
dalam proses pendaftaran. Bagi yang beniat mencari pasangan hidup semoga
dipertemukan dengan sang sandaran hati yang sedang menunggu untuk dipinang.
Kami peserta PKU angkatan tiga belas tentu memiliki banyak
kekurangan, memiliki banyak keterbatasan serta memiliki banyak kekhilafan,
karena demikian, seandainya ada hal-hal yang kurang berkenan dari keseluruhan
yang kami lakukan, berjuta maaf kami haturkan, termasuk saya sendiri, jika ada
hal-hal yang menyakiti perasaan baik perkataan penyataan dan ungkapan, candaan
maupun perumpamaan, mohon dimaafkan, inilah kami yang penuh dengan kekurangan.
Ijinkan kami menyampaikan pantun belakangan.
Pergi jauh ke Balikpapan
Pulang-pulang bawa rambutan
Teruslah maju rekan untuk masa depan
Perpisahan hari ini bukanlah sebuah hambatan
Pulang-pulang bawa rambutan
Teruslah maju rekan untuk masa depan
Perpisahan hari ini bukanlah sebuah hambatan
Pergi main ke Gramedia
Membaca buku sejarah Bung Hatta
Perpisahan ini sangat tak kusangka
Hingga aku kini meneteskan air mata
Membaca buku sejarah Bung Hatta
Perpisahan ini sangat tak kusangka
Hingga aku kini meneteskan air mata
Banyak sekali pencemaran tanah
Sawah bapak ditanami padi
Walau kita hari ini berpisah
Semoga bisa berjumpa lagi
Sawah bapak ditanami padi
Walau kita hari ini berpisah
Semoga bisa berjumpa lagi
Sudah sora jalan-jalan
Rapi sekali mencari sensasi
Dengan berat hati kami lepaskan
Semoga guru tak lupa kepada kami
Rapi sekali mencari sensasi
Dengan berat hati kami lepaskan
Semoga guru tak lupa kepada kami
Wassalamu’alikum Warahmatullah
Wabarakatuh
https://www.nafsnatiqah.com/2020/02/assalamualaikum-warahmatullah.html
Baca Juga
maasyaa Allah ustadzii.. panutaan
ReplyDelete