-->
Khutabtul Wada PKU XIII Unida Gontor

Khutabtul Wada PKU XIII Unida Gontor


Oleh : Muhammad Kholid

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على النبي المصطفى وعلى آله وأصحابه أهل التقى والوفى. أما بعد

Yang terhormat, Rektor UNIDA Gontor Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, MA. Yang kami ta’dzimi
Yang terhormat, Direktur Utama Program Kaderisasi Ulama, Dr Hamid Fahmy Zarkasyi Yang kami taati
Direktur Eksekutif Program Kaderisasi Ulama Ust Khairul Umam MA yang kami hormati
Segenap para dosen dan musyrif, serta mentor yang tidak bisa kami rinci, tanpa sedikitpun rasa hormat yang terkurangi,
Begitu pula para staf dan teman-teman PKU angkatan XIII yang kami cintai

Berdirinya saya disini, sebagai perwakilan dari teman-teman peserta Program Kaderisasi Ulama Angkatan Tiga Belas yang saya cintai. Untuk menyampaikan sepatah dua patah kata mengenai kesan dan pesan selama kami menimba ilmu di kampus ini.

Setiap dari kami memiliki alasan mengapa masuk mendaftar di PKU. Ada yang termotivasi setelah membaca buku-buku PKU dan INSISTS yang dikarang oleh sang guru. Ada yang memang murni disuruh oleh orang tuanya untuk melanjutkan di PKU untuk menuntut ilmu. Ada yang memang karena sejak kecil hobinya belajar, menulis, berdiskusi hingga lupa waktu. Ada yang masuk PKU sebagai qodo’an karena selama kuliah lebih banyak bermain daripada belajarnya, sehingga menganggap dirinya lulusan yang belum bermutu. Ada juga karena sedang dalam fase hijrah, sehingga dikenal di PKU sebagai Ust Hijrah yang berkacamata dan berotot itu.

Tapi meskipun motivasi dan starting point kami berbeda,  kami memiliki satu motivasi yang sama. Bahwa setiap dari kami ingin merubah framework dan paradigma. Serta meningkatkan pemahaman akan Islam sebagai agama dari sang Pencipta. Islam sebagai sebuah cara padangan alam dalam melihat kebenaran dan realita.  Dengan masuk PKU, kami bisa mengislamisasikan diri ini yang masih keliru dalam menganalisa sebuah fenomena.

Kami dipertemukan dengan teman-teman yang luar biasa, dengan latar belakang yang berbeda. Ada utusan Muhammadiyah, NU, Persis, MUI, Kemag, PSPI, Pemerintah Kabupaten dan kampus UNIDA. Ada yang dulunya sebagai aktifis hingga menjabat sebagai Dewa. Aktifis Masjid Salman ITB, aktifis perpustakaan Masjid Solahuddin UGM, ketua BEM STAIPI dan ketua DEMA UNIDA, serta lulusan UIN Sunan Kalijaga. Ada juga aktifis perempuan yang bergabung di AILA. Ada juga seorang penulis produktif yang salah satu bukunya berjudul Wanita Yang Merindukan Surga. Yang dari Mahasiswa Guru juga tidak kalah hebatnya. Ada mantan sekpim, staf hotel, pramuka, lac, mabikori dan menwa.

Semuanya diawali dari gedung Ali Bin Abi Thalib yang juga dihuni oleh mahasiswa S1 dan S2 yang berbeda karakter dan mazhab. Karena memang waktu itu gedung PKU sedang ditempati oleh para mahasiswi Turki yang sedang belajar bahasa arab. Jarak perkuliahan yang jauh dari maskan Ali ke Hall UNIDA tidak menyulitkan kami untuk semangat datang ke kelas  untuk mendapatkan transfer ilmu dan adab. Berselang dua bulan, tiba waktu kepergian Mahasiswi Turki yang berjilbab, meskipun sayang kami belum berkenalan akrab. Kami bergegas melakukan pindah masal dari maskan Ali ke Gedung PKU yang dipimpin sang ketua, Saudara Showan sebagai penanggung jawab. Dengan segera kami membuat rancangan kegiatan dengan membentuk halaqah-halaqah diskusi hingga ada yang mengkaji Talmud dan al-Kitab.

Kalau di Pascasarjana ada Teras Peradaban, di Gedung PKU ada Pojok Peradaban. Anehnya ia sering disebut oncom corner, entah siapa yang mencetuskan. Diskusi Bahasa Inggris dan Arab rutin kami lakukan. Halaqah tahsin, membagi nasi bungkus ke fakir miskin di ponorogo hingga buka bersama secara berkala diagendakan. Meskipun tidak semua yang ikut buka bersama juga ikut berpuasa seharian.

Berbagai macam fasilitas juga telah disediakan. Perpustakaan CIOS dengan wifi yang kencang menunjang kami untuk semakin rajin menjalankan tugas-tugas yang diberikan. Disini ada PKU Mart dengan penjaga kafenya yang selalu tersenyum setiap kami membeli makanan. Tentu kantin ini bukan untuk dikomersialisasikan, tapi ia sebagai penunjang salaha satu maqashid syariah yaitu hifdzul aql sebagai tujuan. Yaitu terciptanya akal yang sehat dan siap menerima ilmu-ilmu dari tumpukan buku-buku yang kami baca, mulai dari yang tebal hingga yang ringan.

Berbagai macam penugasan silih berganti. Kuliah dari pagi hingga sore bahkan malam selalu menanti. Entah berapa buku sudah kami lahap di PKU ini. Tugas penulisan baik itu resume, opini, artikel, karya ilmiah, bahkan jurnal sekalipun kami hadapi. Tugas khutbah, jadwal imam, jadwal kajian shubuh, kajian CIOS dan tugas-tugas lainya selalu menenami. Tugas-tugas itulah yang membuat kaum rebahan seperti kami agak susah beradaptasi.

Berdiskusi adalah rutinitas kami hampir setiap malam dengan ditemani para mentor dan mentorah, ada Ustadzah Farhah dan Ustadzah Firda yang baik hati. PKU Putri dibimbing ust. Yongki. beliau membimbing Peserta PKU Putri sejak awal hingga beralih ke kelompok epistemology, yang kemudian ditemani Ust. Rizki. Kelompok Al-Qur’an, Hadist dan Syiah dibimbing Ust Eko yang sudah beristri, Kelompok Pluralisme dan Dekontruksi Syariah dibimbing Ust Hasbi dan Ust Rodhi. Kelompok Sosial Politik dibimbing Ust Indra Ari Fajari. Sebagian besar dari mentor dan mentorah adalah sosok-sosok yang sering mendapat sebaran undangan pernikahan dari temen-temanya dulu di pondok madani, semoga setelah penutupan ini mereka bisa menyebar undangannya sendiri.

Kami mendapatkan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berbhineka. Dari sejarah barat hingga filsafat heremeneutika. Disini kami dikenalkan dengan tokoh-tokoh orientalis dan pemikir kelas dunia seperti, Frinthjof Schuon, Simone de Beauvoir, Freidrich D.E. Schleiermacher, Wilhem Dilthey, Martin Heidegger, Hans-Georg Gadamer, Nietzche, Wilfred Canwell Smith, John Hick, Harvey Cox, David Hume, Thomas Khun, Adam Smith, John Wansbrough, Immanuel Kant hingga Jacques Derrida. Sebagian Besar dari mereka adalah tokoh postmodernisme yang identik dengan karakter relativismenya. Kami juga dikenalkan dengan sarjana muslim kontemporer seperti Husein Muhammad yang dijuluki Kiai Feminis yang baru menerima Honoris Causa, Khalafullah dengan kisah-kisahnya. Muhammad Arkoun yang dikaji oleh Saudara Fariz Mirza. Muhammad Syahrur dengan Milk al-Yamin-nya yang membuat geger segajat raya, hingga Jamal al-Banna yang dikaji oleh saudara kita Da’I, sang penikmat senja.

Kami diajarkan pemikiran-pemikiran mereka bukan untuk ditelan mentah-mentah atau dipuji bak dewa brahma. Tapi untuk dikritisi sebagaimana telah dilakukan oleh para guru kita. Tradisi kritik adalah hal yang biasa sebagai wujud adanya dialektika. Dengan Mengkritik kita bisa tahu mana yang shawab mana yang khata’, mana yang haq mana yang bathil, mana yang shahih  mana yang saqim, mana yang benar mana yang salah, mana yang jujur dan mana yang dusta.

Selain memahami peradaban Barat yang cenderung liberal atau bebas. kami juga dituntut untuk paham apa yang ditulis oleh para ulama-ulama kita yang berkelas. Mulai dari Muhammad bin Idris as-Syafi’ie, Abu Hamid al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibn Sina, as-Syatibi, Ibnu Khaldun, Fakhruddin ar-Razi hingga Ibn Firnas. Begitu juga tokoh-tokoh pemikir muslim kontemporer seperti Osman Bakar, Malik Badri, Said Nursi, Ismail al-Faruqi, Alparslan Acikgenc dan tentunya Syed Muhammad Naquib al-Attas. Melalui merekalah, kita bisa memahami agama Islam yang luas.

Setelah berselang empat bulan masa perkuliahan. Tibalah saatnya masa penulisan. Perjalanan penulisan bukan tanpa rintangan. Pagi siang sore malam, jiwa raga kami korbankan demi melahirkan karya ilmiah yang sesuai harapan. Menulis, menghadap ke musyrif, dikoreksi, diperbaiki, menghadap lagi, dikoreksi, diperbaiki, begitulah perkejaan kami seharian. Kata pepatah, Berakit-rakit Kehulu, Berenang Ketepian, Bersakit-sakit dahulu, Workshop kemudian.

Masa workshop itupun datang. Perjalan dari Surabaya-Yogyakarta-Jakarta-Banten adalah perjalanan yang menantang. Disana kami mempresentasikan makalah dengan slide yang telah digladi secara matang. Disana kami berlatih menyampaikan materi dengan sistematis tanpa rasa bimbang. Diselengi candaan para bucin untuk memecah keheningan. Kami harus siap menerima pertanyaan apapun dari audience yang datang, meskipun kadang dikritik terlalu utopia mengawang.

Kami juga bertemu dengan tokoh tokoh nasional seperti Prof Roem Romi dan Dr. Hidayat Nur Wahid untuk mendengar petuah mereka dengan suasana penuh keheningan. Selain itu kami berkunjung ke MUI Jawa Timur dan MUI Pusat serta YDSF mendegar cerita mereka dalam berjuang. Alhamdulillah, berkat workshop ini, ilmu kami semakin terasah, perjalanannya penuh faedah. Karena saking banyaknya ramah tamah, berat badanpun bertambah, tapi tidak apa-apa, yang penting follower semakin melimpah.

Kami ucapkan ribuan terima kasih kepada para dosen dan musyrif. Terkhusus kepad Prof. Amal, Ust Hamid, dan Ust. Khairul Umam sebagai Direktur Eksekutif. Terimak kasih yang tanpa lelah membimbing kami, mengajari kami, memberi teladan kepada kami, memotivasi kami sehingga menjadikan kami mahahasiwa yang produktif. Kepada para mentor yang setia menemani kami dari awal hingga titik ini dengan penuh kooperatif. Segala upaya yang kami lakukan untuk membalas jasa mereka tidak akan sebanding dengan setetes keringat yang keluar dari tubuh mereka yang latif. Ada perkataan seorang sahabat untuk mewakili perasaan kami yang naif. Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata ana ‘abdun man allamani harfan (aku adalah budak bagi orang yang mengajariku walau hanya huruf alif). Semoga para guru-guru kami diberikan umur yang panjang, sehat walafiat dalam mengemban amanah risalah kenabian yang hanif.

Kami juga berterima kasih kepada seluruh staf yang telah rela berkhidmah menemani kami dari mulai pendaftaran hingga penutupan acara ini. jazakumullah ahsanal jaza. semoga amal kebaikan antum menjadi wasilah atas kelancaran studi antum kedepan nanti. Dan kami doakan semoga antum bisa masuk PKU tahun depan mengikuti jejak kami.

Bagi kawan-kawan yang melanjutkan di Teras Peradaban. Semoga dilancarkan perkuliahannya terkhusus dalam melaksankan tugas-tugas perkuliahan. Bagi yang keluar untuk bekerja semoga dilancarkan untuk mendapatkan perkerjaan. Bagi yang berusaha untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri semoga dipermudah dalam proses pendaftaran. Bagi yang beniat mencari pasangan hidup semoga dipertemukan dengan sang sandaran hati yang sedang menunggu untuk dipinang.

Kami peserta PKU angkatan tiga belas tentu memiliki banyak kekurangan, memiliki banyak keterbatasan serta memiliki banyak kekhilafan, karena demikian, seandainya ada hal-hal yang kurang berkenan dari keseluruhan yang kami lakukan, berjuta maaf kami haturkan, termasuk saya sendiri, jika ada hal-hal yang menyakiti perasaan baik perkataan penyataan dan ungkapan, candaan maupun perumpamaan, mohon dimaafkan, inilah kami yang penuh dengan kekurangan. Ijinkan kami menyampaikan pantun belakangan.

Pergi jauh ke Balikpapan
Pulang-pulang bawa rambutan
Teruslah maju rekan untuk masa depan
Perpisahan hari ini bukanlah sebuah hambatan

Pergi main ke Gramedia
Membaca buku sejarah Bung Hatta
Perpisahan ini sangat tak kusangka
Hingga aku kini meneteskan air mata

Banyak sekali pencemaran tanah
Sawah bapak ditanami padi
Walau kita hari ini berpisah
Semoga bisa berjumpa lagi

Sudah sora jalan-jalan
Rapi sekali mencari sensasi
Dengan berat hati kami lepaskan
Semoga guru tak lupa kepada kami

Wassalamu’alikum Warahmatullah Wabarakatuh


https://www.nafsnatiqah.com/2020/02/assalamualaikum-warahmatullah.html




Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

1 comment

Post a Comment